Love and Secret

When it turns out anything about blogging, I'm sixteen years old :')

Sabtu, 04 Agustus 2012

Fanfiction Twilight : Always Be Yours Part 1- 6

Diposting oleh Desy Amelia Rambe di 04.27
Reaksi: 
Bella

Aku hampir terlambat ke sekolah lagi, teman temanku pasti sudah menunggu pr yang ku kerjakan. Seperti biasa, mereka "mengcopy" pekerjaanku.
"Darimana saja kau Bella ? kenapa terlambat lagi shi ?" belum aku sempat mengatur nafas, Jess sudah mengomel.
"Hei ! maaf, trukku mogok" jawabku kesal . Jess memang tidak pernah menghargaiku.
"Sudah sudah, bisakah kita mengerjakannya sekarang ?" tanya Abigail tenang.
"Ini yang kalian butuhkan ? silahkan " kataku sambil mencampakkan buku tugasku ke meja mereka.

Aku duduk disebelah Abigail dan mulai berfikir bahawa aku orang yang payah, bisa bisanya aku terlambat lagi.  semua itu gara gara truk Chevy tuaku. Tapi selama ini Dad selalu ingin menggantinya dengan mobil yang layak, tapi selalu aku tolak, aku tak mau ada mobil yang akan menggantikan mobil Alm Angela, adikku. Truk ini menyimpan banyak kenanganku dengannya. Sekarang aku hanya bisa menaikinya tanpa bisa bersenda gurau lagi dengan Angela didalamnya. Angela, aku kangen padamu .

Hari ini hujan turun dengan derasnya, aku lebih memilih pulang dan langsung mengerjakan pr ku untuk besok , atau belajar bermain piano sendiri dirumah. Kulihat mobil Marcedes hitam terparkir didepan rumahku. Siapa tamu yang berkunjung siang siang dengan hujan yang deras begini ? tanyaku dalam hati.
"Hai, aku Carlisle, apakah kau putri Cherif Swan ?" tanya lelaki berambut pirang itu. Sepertinya dia sebaya dengan Dad.
"Ya, tapi Dad sedang tidak ada dirumah" jelasku tanpa lelaki itu perlu bertanya.
"Oh ya, maaf , bisakah kau meninggalkan pesan untuknya ?"
"Tentu" jawabku
"Bilang padanya bahwa Dr. Carlisle sudah pindah ke Forks dan ingin bertemu dengannya" kata lelaki itu. ah, ternyata dia seorang dokter, batinku.
"Oke" kataku . Dan lelaki itupun pamit untuk pulang.

"Dad, Dr.Carlisle mencarimu tadi " kataku ketika menyiapkan makan malam untuknya.
"Oh, tadi dia kesini ?"
"Ya, dan katanya dia sudah berada di Forks sekarang dan ingin bertemu dengan Dad"
"Wah, sudah ku duga dia pasti pindah juga kesini"
"Hmm" gumamku.

Edward

Kami sudah bosan tinggal di Los Angeles, kami ingin menikmati kota yang kecil, dan pilihan kami jatuh pada Forks, kota dengan curah hujan tertinggi di Amerika. Aku, adik perempuanku, Alice dan kedua orang tuaku, Carlisle dan Esme.
"Kita akan pindah kesana sesuai kemauanmu Edward, Dad punya teman lama disana, dan kita bisa tinggal di sebuah rumah tak jauh dari rumahnya" jelas Dad padaku
"Oke Dad"
"Dan disana juga ada gadis yang sebaya denganmu , dan dia sangat cantik" ungkap Dad tanpa basa basi.
"Oh, ayolah Dad, aku sedang tak ingin membicarakan perempuan sekarang" jawabku malas.
"Hmm, baiklah Edward" jawab Carlisle menyerah.
"Apa kau yakin tak ingin memicarakan tentang perempuan Edward ?" kudengar suara langkah Alice mendekati kami .
"Yeah" jawabku
"Oh ayolah Edward, jangan selalu bersikap seperti ini, tidak semua perempuan sama seperti Rosalie kau tahu" katanya sambil memegang bahuku.
Ah, tidak. Aku trauma dengan perempuan . Apalagi perempuan seperti Rosalie. Aku sudah sangat mencintainya, tapi apa yang dia berikan kepadaku ? Dia berselingkuh dengan Emmet, sehabatku sendiri. Aku benci Emmet, dia telah merebut Rosalie dariku ! Kurasakan tanganku mengepal keras , dan Alice menenangkanku.
"Sudahlah Edward, tidak perlu mengingatnya lagi. Sekarang kau hanya perlu membuka lembaran baru dan melupakan Rosalie"
Melupakan Rosalie ? Kurasa tidak mungkin. Aku masih sangat sangat mencintainya , betapapun besar kepedihan yang diberikannya kepadaku. Aku memang cowok yang bodoh. Kau bodoh Edward, bodoh !!

Always Be Your Part 2

Bella

Aku duduk dibangku kedua dari depan sendirian, didepan bangkuku Abigail dan Jess duduk sebangku. Bel berbunyi, dan Mr. Weber guru Bahasa Spanyol membawa seorang lelaki tinggi yang sangat tampan dengan rambut perunggu berantakan. Lelaki itu tersenyum kepada seisi kelas. Ah, senyum yang menawan. Apa ? Menawan ? Oh tidak Bella, kau tidak akan suka pada orang itu bukan ? Kubuang jauh jauh pikiranku itu. Tapi aku sadar, bangku disebelahku kosong,dan besar kemungkinan dia akan duduk disebelahku.
"Silahkan duduk Mr. Cullen , disebelah Miss. Swan." Mr. Weber mempersilahkan lelaki itu untuk duduk disebelahku.
"Terima kasih Mr. Webe.r" katanya dengan sopan
Selama pelajaran, aku hanya diam, tidak berani mengajaknya berkenalan, dan begitu juga dengan dia, dia hanya diam dan menyimak pelajaran Mr. Weber.

"Hai." seseorang menyapaku di kafetaria dan duduk tepat diseberang meja.
"Oh , hai. " jawabku , ternyata cowok tadi.
"Kenalkan aku Edward Cullen, kita belum berkenalan tadi, dan kau ?." tanyanya padaku
"Aku Bella Swan."
Sejenak dia diam, cukup lama memang. Kemudian dia kembali berbicara.
"Maukah kau menjadi temanku sekarang? Karna aku sama sekali belum punya teman disini kecuali adikku" katanya.
"Tentu" jawabku , "Siapa adikmu?"
"Namanya Alice Cullen, ntah diman dia sekarang, dia juga baru pindah seperti aku, hanya saja dia satu kelas dibawah kita" jawabnya sambil memutar mutar kepalanya mencari adiknya yang bernama Alice itu. "Nah, itu dia" katanya sambil melambaikan tangannya kepada seorang perempuan dengan rambut pendek runcing yang sangat cantik.
"Hai Edward." sapanya pada Edward, tapi matanya yang coklat itu tertuju padaku dan tersenyum . Senyum yang menawan juga .
"Siapa namamu ?" tanyanya padaku.
"Bella Swan." jawabku singkat sambil tersenyum
"Senang berkenalan dengan mu Bella"
"Aku juga"

Aku dan Alice menjadi teman baik sekarang, begitu juga dengan Edward. Ternyata mereka orang yang baik, setiap kali aku memerlukan mereka , mereka selalu ada untukku . Alice selalu terbuka padaku.  Aku sudah menganggap Alice sebagai adikku sendiri, menggantikan Angela, bukan menggantikan tepatnya, tapi menambah sosok Angela dihatiku. Suatu hari Alice menceritakan semua kejadian yang menimpa Edward padaku. Aku merasa kasihan pada Edward, tak seharusnya lelaki sebaik dia mendapat kepedihan seperti itu. 
"Kuharap kau dapat membantunya." kata Alice memecahkan lamunanku.
"Apa maksudmu Alice ?" tanyaku terkejut.
"Aku ingin kau menggantikan posisi Rosalie dihatinya" kata Alice sambil matanya menerawang jauh kearah jendela kelas.
"Apa ? " tanyaku semakin terkejut. "Oh Alice, itu tidak mungkin. "
"Kenapa tidak mungkin Bella ? Tidak ada orang yang melarang kan ?"
"Tapi -." belum sempat aku meneruskannya , Alice sudah mendahuluiku
"Kau bisa mencobanya Bella "
'kau bisa mencobanya Bella'. Apa benar aku bisa ? Jujur, aku sedikit tertarik padanya, tapi tak pernah sekalipun aku berfikir untuk masuk kedalam hatinya. Aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
"Oh Alice" kataku mendesah . "apa kau yakin ?"
"Aku sangat yakin Bells, ayolah Bells" katanya membujukku.

Edward

Bersahabat dengan Bella memang sangat menyenangkan . Kami bertiga, aku , Bella, dan Alice selalu bersama . Dan tiba tiba saja Alice mengusulkan sesuatu yang menurutku sangat konyol. Dia mengusulkan agar aku membuka hati untuk Bella, dia ingin aku pacaran dengan Bella.
"Edward, aku ingin kau bahagia" kata Alice tiba-tiba ketika kami sedang menonton televisi. Matanya jauh menerawang ke arah jendela.
"Aku juga sebaliknya Alice, aku juga ingin kau bahagia" jawabku. Jujur, aku terkejut ketika dia mengatakan itu. Kenapa ? Tiba-tiba?
"Berati kau dan aku sama sama ingin melihat satu sama lain bahagia bukan ? tanya Alice.
"Yup!"
"Kalau begitu, please, bukalah hatimu untuk Bella." Aku terkejut mendengarnya .
"Maksudmu ? Jangan Bercanda Alice."
"Tidak , aku tidak bercanda. Malah aku teramat serius."
Oh tidak. Apa ini ? Permintaan Alice sangat tidak masuk akal. Bella sahabatku. Mungkinkah aku dapat membuka hati untuknya ? Dan menggantikan posisi Rosalie ?
"Cobalah dulu Edward." kata Alice sambil merengek kepadaku.
Bella, dia perempuan yang baik. Ayahnya kepala polisi di Forks dan sahabat Dad. Keluarga kami juga sudah cukup dekat. Tapi, apa mungkin aku bisa mencintai Bella ? Dia sahabatku . Terlebih lagi aku masih memndam perasaanku pada Rosalie. Tidak. Aku tidak boleh mencintainya. Apa pendapatnya nanti ?  Tapi apa salahnya mencoba ? Alice benar, mengapa aku tidak mencobanya ?

***

Always be Yours Part 3

Bella

Aku duduk sendirian di depan rumah dan memikirkan apa yang dikatakan Alice tadi. 'Kau bisa mencobanya'. Apa yang akan kulakukan ? Apa aku harus mendekati Edward ? Tapi selama ini aku memang sudah dekat dengannya, sebagai sahabat. Dia juga tidak ada menunjukkan respon padaku. Aku harus mencoba , batinku dengan semangat.
"Hai Bells" sapa Edward membuyarkan lamunanku tentang dia .
"Eh, hai Edward" aku terkejut melihat dia ada disini.
"Sedang apa kau disini ?" tanyaku penasaran.
"Aku kebetulan lewat, dan kulihat kau melamun. Kau sangat cantik kalau melamun Bells." katanya memujiku.
"Benarkah?" tanyaku pura pura antusias.
"Yeah"
'Kau bisa mencobanya' ya aku bisa mencobanya. Demi Alice , dan mungkin demi Edward juga.
"Apa kau mau masuk ?" tanyaku padanya yang sedang mengibas ngibaskan rambut perunggunya yang basah.
"Boleh " jawabnya singkat.
Kami masuk ke dalam rumah dan aku segera membuatkan secangkir teh untuknya. Dan kami duduk bersebelahan dimeja makan.
"Minumlah dulu " kataku
"Ya, terima kasih Bells" jawabnya sambil tersenyum .
Aku berniat mengambil handuk yang ada di atas meja dan memberikannya pada Edward untuk mengeringkan rambutnya. Namun tiba tiba ada telapak tangan lain yang menyentuh tanganku . Tangan Edward. Aku terkejut, darah mengalir deras dalam tubuhku. Jantungku tiba tiba berdetak lebih cepat. Apa yang aku rasakan ? Tak pernah aku sedekat itu dengan Edward.
"Ups, maaf Bells" katanya sambil mengangkat lagi telapak tangannya .
"Ya, ini handukmu , keringkan dulu rambutmu." kataku agak gugup.
"Terima kasih ."

Kami kembali duduk di teras rumah sambil meminum teh. Mengobrol berdua dengannya. Jarang jarang aku mengobrol berdua dengannya. Biasanya kami selalu bertiga dengan Alice.
Hujan masih deras, dan angin bertiup. Udara terasa dingin sekali, dan dengan spontan aku mengelus ngelus lenganku, pertanda aku kedingninan.
"Kau kedinginan Bells" katanya
"Ya, sedikit" jawabku
"Ah, jacket ku tertinggal di mobil. " katanya.
Tiba tiba kurasakan tangan lembut menyentuh lenganku. Tangan Edward lagi. Edward memelukku erat sambil mengelus ngelus lenganku. Entah apa yang kurasakan lagi sekarang. Aku merasa seperti terbang . Aku membiarkannya.  Apa aku mulai merasakan jatuh cinta ? Aku merasa sedikit hangat sekarang. Ku letakkan kepalaku bahunya. Dan mataku sangat berat, beberapa menit kemudian akupun terlelap.

Edward

Aku senang bisa memeluknya erat seperti ini. Aku merasa hangat. Kurasakan kepalanya tidak bergerak di bahuku, ternyata dia tertidur. Ah, cantik sekali dia ketika sedang tidur. Aku merenggangkan pelukanku dan mengangkatnya ke kamarnya. Dia mengigau .
"Edward" desahnya. "Baiklah Alice baiklah" lanjutnya lagi.
Dia mengingau . Menyebut namaku dan Alice. Namun hanya itu yang keluar dari mulutnya. Setelah itu dia langsung tidur pulas. Aku menyelimutinya dan menatap wajahnya. Wajahnya yang cantik, putih pucat. Apa aku mulai mencintainya ? Ah, aku tak mau dulu memikirkan itu . Aku memutuskan untuk pulang .

"Edward." sebuah suara memanggilku . Suara itu . Suara Bella . Aku menoleh ke belakang dan mendapati Bella telah ngos-ngosan mengatur nafas.
"Terimah kasih ." katanya. nafasnya belum teratur. Aku hanya menatapnya. Menatap wajahnya. Aku menikmati itu.
"Hei." katanya sambil melambaikan tangannya tepat didepan wajahku.
"Ah." aku terkesiap . "Apa Bells ?" tanyaku.
"Terima kasih untuk yang semalam Edward." katanya. Kini nafasnya sudah tenang.
"Oh iya sma-sama Bells. " jawabku.

Kami berjalan ke kafetaria dan memesan makanan .
"Alice mana ?" tanyanya sembari mengunyah burger yang dipesannya tadi.
"Dia sedang sakit"
"Sakit apa ?" Bella terlihat agak terkejut.
"Sepertinya dia kecapekan. Dia kan sedang berlatih belajar balet" kataku, membayangkan betapa lincahnya Alice ketika sedang menari balet.
"Ah, aku akan kerumahmu nanti."
"Bersamaku ?" tanyaku spontan. Aku ingin bersama dengan dia lagi .
"Maaf Ed. Aku harus pulang kerumah dulu." katanya. Apa dia tak ingin pergi bersamaku ?
"Aku mampir kerumahmu." aku bersikeras.
"Tidak Edward, aku ada perlu nanti. Kita ketemu dirumahmu saja, oke"? katanya dengan nada sedikit perasaan bersalah.
"Oke." jawabku singkat. Ah, aku tak bisa memaksa Bella untuk selalu bersamaku tiap saat kan ?

***

Always Be Yours Part 4

Aku akan ke rumah Jacob, dia akan pulang hari ini, itu sebabnya aku menolak pergi ke rumah Edward bersamanya. Padahal sebenarnya aku ingin. Tapi aku harus menemui Jacob, aku rindu sekali padanya. Aku berjalan menuju rumah Jacob. Dia telah kembali sekarang. Jacob. Jacob sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Teman masa kecilku juga bersama Angela. Aku sempat kesal padanya karena setelah Angela meninggal dia mendapat beasiswa untuk kuliah di Phoenix, dan meninggalkan aku sendiri disini.
"Jakeee" teriakku ketika melihat dia membukakan pintunya . Aku langsung memeluknya . Aku rindu sekali padanya.
"Hai Bells. " katanya sambil mengangkat tubuhku . "Berat sekali kau sekarang " ejeknya .
Aku turun dari pelukannya . Dan menatapnya dengan mata yang ku sipit-sipitkan.
"Hei, jangan mengejek !"
"Oh haha Sorry Bells , aku rindu sekali padamu" katanya sambil mengucek ngucek rambutku.
"Aku juga Jake, bagaimana disana ?."
"Biasa saja . Tak seru jika tidak ada kau ." katanya sambil nyengir .
"Tak usah banyak cerita Jake, kau telah membuatku kesal dengan meninggalkanku dan kuliah di Phoniex. Apakau akan kembali ke sana lagi ? " tanyaku
"Tidak, aku akan tinggal disini" jawabnya. Membuatku senang.
"Oh Jake" kataku dan kembali memeluknya .

Aku tiba dirumah Alice dan Edward. Sebenarnya aku ingin mengajak Jacob, hanya saja dia masih harus menemui teman teman lamanya disini. Jadi aku hanya pergi sendiri. Kulihat Edward sedang bersama Alice dikamar Alice. Alice sedang berbaring dan Edward duduk di pinggiran tempat tidur. Ah, Edward memang kakak yang baik . Tidak heran jika Alice selalu ingin membuatnya bahagia.
"Hai Alice, bagaimana keadaanmu ?" tanyaku langsung dan duduk disebelah Edward.
"Aku baik baik saja Bells , hanya saja Edward terlalu menghawatirkanku." katanya melirik Edward dan aku pun melirik Edward juga.
"Hei apa aku salah ?." tanya Edward
"Oh tidak , kau kakak yang baik Edward. " kataku memujinya.

Edward

'Kau kakak yang baik Edward' Ya, aku kakak yang baik, dan Alice, dia juga adik yang baik . Aku masih tidak mengerti mengapa Alice menyuruhku membuka hati untuk Bella. Walaupun sebenarnya aku sudah mulai tertarik pada Bella. Ada getaran getaran lain ketika berada didekatnya. Apa yang sebenarnya Alice inginkan ? Aku menatap Bella lama, dia cantik, baik, selalu mementingkan kebahagiaan orang lain.
"Hei" kata Bella mengejutkanku. "Belakangan ini kau sering menatapku Edward" katanya sedikit curiga.
"Benarkah?" tanya Alice terkejut.
"Mungkin Alice" jawab Bella. Alice melihatku dan mengedipkan sebelah matanya padaku. Pertanda dia senang .
"Ah, perasaanmu saja Bells." jawabku, aku tak mau ini berlanjut. Alice akan mengungkit semuanya nanti.
"Hmm, Yeah, mungkin lagi" jawab Bella.
"Oke, aku mau ke bawah dulu, tadi Carlisle memanggilku" kataku. Syukurlah aku ingat bahwa Carlisle memanggilku tadi, ini bisa dijadikan alasan untuk menghindar.

Aku turun ke bawah dan menemui Carlisle disana. Dia akan memberi tahu sesuatu yang penting katanya.
"Edward, kau terpilih menjadi salah satu kontestan  untuk mengikuti lomba piano di Los Angeles" kata Carlisle
"Benarkah ? " tanyaku terkejut. Apa aku harus merasa gembira karena terpilih atau sedih karena harus meninggalkan Bella.
"Ya Edward, kau akan disana selama beberapa minggu."
"Aku tak menyangka bisa terpilih Dad." kataku .
"Kalau begitu, jangan sia siakan kesempatan emas ini Edward." kata Carlisle dengan semangat.
"Kapan aku berangkat Dad ?"
"Kira - kira lusa, karena kau juga harus berlatih disana."

Semalaman aku memikirkan apa yang harus kulakukan . Apa aku harus pergi ke LA selama beberapa minggu, atau tetap disini dan tidak meninggalkan Bella maupun Alice. Tapi ini kesempatan emas, sejak dulu aku menanti kesempatan ini. Aku memutuskan  untuk tetap pergi .  Aku berniat menjemput Bella pagi ini, sekalian ingin berpamitan dengannya. Apalagi belakangan ini truk Bella juga lebih sering mogok. Kasihan dia kalau harus terlambat terus. Ketika sampai di depan rumah Bella, kulihat dia telah bersiap siap untuk pergi .
"Hei Bells"
"Hai Edward, kau ? Pagi - pagi kesini ? Ada Apa ?" tanyanya. Pertanyaan bertubi-tubi.
"Hmm, aku ingin mengajakmu pergi sama Bella, apa kau mau ?" tanyaku. Jawab ya padaku Bella.
"Ya tentu saja Edward" jawab Bella. Dan membuat hatiku terlonjak senang.

Kami berjalan menuju mobil Volvoku. Hari ini cuaca cukup bersahabat. Tidak hujan.
"Bella, aku akan pergi ke LA untuk beberapa minggu." kataku ketika kami sampai didalam mobilku.
"Apa ?" tanya Bella terkejut . Mengapa dia terkejut ? Pikirku dalam hati.
"Ya Bells, aku dipilih menjadi salah satu kontestan dalam perlombaan piano disana." Bella hanya diam . Apa dia sedih ?
"Hanya beberapa minggu Bells." kataku melanjutkan.
"Ku harap kau pulang membawa piala Edward."  katanya, matanya menatap lurus ke arah jendela. Menyembunyikannya dariku.
"Aku janji Bells." kataku meyakinkannya. Dia tidak boleh sedih, aku harus mengehiburnya. Tapi apakah benar dia sedih ?  Aku tahu kapan dia sedih, gembira, berbohong. Dan kali ini aku yakin dia sedih.

***

Always Be Yours Part 5

Bella

Besok Edward akan pergi ke LA selama beberapa minggu. Aku cukup sedih mendengarnya, tapi aku tak bisa memaksanya untuk tinggal. Kata Alice, moment ini sangat  dinantikan oleh Edward. Dan aku tak tega melarangnya. Tapi siapa aku ? Aku bukan siapa - siapa . Aku juga tidak berhak melarangnya. Hanya saja aku pasti akan merindukannya. Inikah rasanya jatuh cinta ? Kau akan merasa kehilangan disaat dia tidak berada didekatmu. Aku pergi ke rumah Alice untuk menjenguknya.
"Besok Edward akan pergi Alice." kataku murung.
"Ya. Hanya beberapa minggu Bells, kau akan merindukannya ?" tanya Alice sedikit tersenyum.
"Hmm, pasti Alice."
"Kau mulai mencintainya Bella." kata Alice yakin. Dia mengenggam erat tanganku.
"Entahlah Alice, aku tak yakin." aku berbohong. Sekarang aku yakin, aku mencintai Edward. Perasaan yang selama ini kurasa tak mungkin akhirnya menjadi mungkin.
"Kau bohong Bells." Alice terdengar yakin dengan ucapannya. "Aku dan Edward tahu kapan kau berbohong atau tidak." lanjut Alice.Aku terdiam sebentar.
"Ya Alice, kau benar." kataku akhirnya. Kulihat Alice tersenyum lebar, wajahnya yang pucat karena sakit kini tampak sedikit cerah.
"Aku bahagia sekali Bells." katanya dan langsung memelukku. Kubalas pelukan itu.
"Apa kau ingin aku langsung memberi tahu Edward ?" tanya Alice dengan sangat antusias.
"Oh tidak Alice, jangan ." Wajahku tampak memohon kali ini.
"Baiklah Bells, baiklah." kata Alice. Hatiku sedikit tenang sekarang.

Malam ini aku tidak bisa tidur. Sudah jam 10 malam. Kubenamkan wajahku ke bantal, tapi tidak berhasil. Wajah Edward selalu membayangiku. Oh Bella, hanya beberapa minggu. Tapi beberapa minggu juga sudah cukup lama bagiku. Kudengar suara jendelaku terbuka. Aku terkejut. Ternyata Edward. Aku berteriak dalam hati.
"Maaf Bells, aku seperti pencuri ya ?" tanyanya sedikit berbisik. "Aku yakin Charlie takkan mengizinkanku masuk" lanjutnya.
"Yeah, mau apa kau kesini Edward ?" aku balik bertanya padanya. Untuk apa dia datang menyelinap ke kamarku malam - malam begini ?
"Aku ingin berpamitan denganmu Bells, disekolah tadi aku tidak melihatmu " kata Edward, ah aku tak mau mendengarnya. Aku tak mau berpisah dengannya.
"Bella, kau tidak sedih kan ?" tanyanya lagi. Aku hanya terdiam. "Aku hanya pergi sebentar Bells." lanjutnya lagi.
"Ya Edward, aku tidak sedih. Malah aku bahagia. Kau telah memimpikan ini sejak lama." terdengar nada muram dalam suaraku.
"Terima kasih Bells. Aku takkan lama, segera aku akan pulang membawa piala." katanya lalu mengecup keningku. Ini pertama kalinya Edward mencium keningku. Lalu dia meletakkan tangannya di wajahku dan mencium bibirku dengan lembut. Jantungku berhenti berdetak sekarang. Dia melepaskan cuimannya dan langsung lompat dari jendela lalu pergi. Ah, dasar kau Edward. Tidak sopan. Sempat terbekas rasa kesal dihatiku namun ketika mengingat ciuman tadi, aku kembali tersenyum.

Edward

Aku sudah berpamitan dengan Bella . Ya walaupun sedikit tidak sopan dengan mencuri ciumannya. Apa dia kesal padaku ? Ku putuskan untuk menelponnya sebelum berangkat ke LA. Semoga dia tidak marah.
"Halo Edward." suara Bella dari seberang telepon.
"Halo Bells, aku mau berpamitan sekali kagi denganmu." kataku .
"Bukankah semalam sudah Edward ? " tanyanya lagi. Syukurlah tidak terdengar nada marah dalam suaranya.
"Kau tidak marah kan Bells ?" Jawab tidak bella, please.
"Karena apa Edward ?" dia balik bertanya.
"Hmm, aku menciummu." kataku dengan hati hati. Kudengar suara Bella tertawa.
"Kau tidak marah Bells ? " tanyaku lagi.
"Tidak Edward, tidak." Oh Bella.
"Terima kasih Bells, tunggu aku ya ." kataku sambil tersenyum.
"Yeah Edward. Selalu." Jawaban yang membuatku bersorak gembira dalam hati.

Mungkin aku dan Bella sudah saling mencintai sekarang . Aku tidak mau memberi tahu Alice, dia pasti heboh. Sebaiknya ini kujadikan kejutan buat dia. Dan pulang dari LA nanti aku akan menyatakan perasaanku pada Bella. Harus . Dia tidak marah padaku . Bella, tunggu aku pulang. Aku mengirimkan pesan sms padanya "BELLA, TUNGGU AKU, AKU AKAN MERINDUKANMU" . Ah, mungkin ini sedikit berlebihan, tapi tak apalah. Setidaknya bisa sedikit mewakilkan perasaanku padanya.

Bella

Ah, Edward . Ada ada saja tingkahnya . Dia menelponku sebelum berangkat ke LA dan mengirimkanku sms, "BELLA , TUNGGU AKU, AKU AKAN MERINDUKANMU" . Aku tersenyum sendiri membacanya. Sudah 3 hari Edward pergi, pesan ini dan kejadian malam itu lha yang mengurangi sedikit kerinduanku padanya. Alice juga belum masuk hari ini. Sudah seminggu dia belum sembuh juga. Aku akan menjenguknya nanti bersama Jacob, dan akan mengenalkan mereka.
Kuputuskan untuk menelpon Jacob.
"Halo Jake, kau dimana sekarang?" tanyaku
"Aku dirumah Bells, ada apa ?"
"Aku ingin mengajakmu kerumah temanku, Alice. Aku akan menjemputmu sekarang, oke ?" jelasku padanya.
"Oke Bells." aku langsung menutup telpon dan ada sms masuk lagi. Ah Edward lagi. "BELLA, KAU MERINDUKANKU ?"

***

Always Be Yours Part 6

Bella

Aku kerumah Alice bersama Jacob malam ini. Kulihat Alice masih terbaring ditempat tidur, dan Esme sedang merapikan kamar Alice.
"Hai Bella" sapa Esme ketika melihat aku memasuki kamar Alice. Kulihat Alice langsung bangkit duduk. Mungkin dia bertanya dalam hati siapa yang kubawa kerumahnya .
"Hai Esme, hai Alice" sapaku pada mereka. Alice masih saja melihat ke arah Jacob. "Kenalkan ini Jacob" lanjutku.
"Hai Esme, Alice" sapa Jacob pada mereka. Menunjukkan senyum manisnya pada mereka. Alice dan Esme pun balas tersenyum pada Jacob.
"Jacob adalah sahabatku, dia baru pulang dari Phoniex" jelasku pada mereka.
"Senang bertemu denganmu Jacob" kata Esme sambil tersenyum . "Oke, karna ada tamu disini, Mom akan buatkan makanan spesial untuk kalian" lanjut Esme lagi .
"Thanks Mom" kata Alice. Lalu dia melihat ke arah Jacob sambil tersenyum . Senyum yang manis, pasti Jacob suka, pikirku dalam hati. Kurasakan bahu Jacob menyentak bahuku.
"Kenapa ?" tanyaku pada Jacob.
"Mana yang namanya Edward ?" tanyanya padaku sambil berbisik . Ya, aku pernah bercerita padanya tentang Edward, tapi aku lupa memberitahu dia bahwa Edward sedang pergi ke LA. Alice masih menatap kami dengan sorot wajah bingung .
"Dia sedang pergi ke LA" jawabku sambil berbisik juga.
"Oh" kata Jake singkat. 'yeah, dan aku merindukannya sekarang' batinku.
"Kalian membisikkan apa ?" tanya Alice tiba - tiba.
"Hmm, tidak Alice" jawabku. Alice hanya mengangguk.
"Bagaimana keadaanmu ?" tanyaku pada Alice, kelihatannya dia belum baikan juga.
"Baik kok, Mom, Dad dan Edward terlalu memanjakanku Bells" jawabnya. Wajahnya cemberut, tapi tetap cantik. Kudengar Jacob tertawa. Otomatis aku dan Alice manatapnya.
"Ada apa ?" tanya Alice, suaranya gugup.
"Tidak" jawab Jacob singkat. Lalu berhenti tertawa. Wajah Alice kembali cemberut, dan aku menatap garang Jacob. Jacob hanya membalasnya dengan senyuman yang manis.

Esme sudah siap menyiapkan makan malam, dia memanggil kami ke ruang makan. Alice juga ikut, hanya saja dia perlu dipapah oleh Jacob. Dia tidak mau makan di kamar. Tidak sopan katanya. Aku mulai memikirkan penyakit Alice, mengapa dia belum sembuh juga ?
"Terima kasih" kata Alice malu malu pada Jake. Jake membalasnya dengan senyuman. Hobi sekali dia memamerkan senyumya, pikirku.
"Ya, hati hati, jangan sampai kau terjatuh" jawab Jake.
"Kau baik sekali Jacob" kata Esme sambil mempersilahkan kami duduk.
"Terima kasih Esme, sudah sepantasnya aku memapah Alice kesini" jawab Jacob. Alice terlihat senyum mendengarnya.
Kami makan malam bersama, dan membicarakan soal Edward sedikit. Tentang keinginannya mengikuti lomba di LA itu. Tak terasa, sudah hampir jam 10 malam. Aku harus pulang, bisa bisa Charlie mencariku. Aku dan Jake pun berpamitan pada Esme dan Alice,
"Kami harus pulang" kataku ."Terima kasih makan malamnya Esme" lanjutku sambil tersenyum. Begitu juga Jake, dia tersenyum sekali lagi, Jake memamerkan senyum indahnya pada mereka. Terutama Alice. Dasar kau Jake ! batinku.

"Mengapa kau selalu memamerkan senyummu pada Alice?" tanyaku curiga ketika kami di dalam mobil.
"Kau cemburu ya ?" Jacob balas bertanya padaku. Cemburu ? Ya jelas tidak. Jacob sudah seperti kakakku, jadi tidak perlu cemburu. Lain halnya dengan Edward.
"Tidak Jake, hanya saja kau terlihat aneh" kataku.
"Haruskah ku beritahu Bells ?" ah, selalu saja Jake bertanya balik padaku.
"Ya jelas harus. Cepat jawab Jake" paksaku padanya. Lagi lagi dia hanya memamerkan senyumnya.
"Apa Alice sudah punya pacar?" tanya Jake. Aku terkejut. Apa ? Ya, aku sudah tau jawaban Jake. Oh Jake dan Alice, aku tersenyum membayangkannya.

Edward

Alice meneleponku tadi pagi, dia memberi tahuku bahwa Bella datang bersama seorang lelaki. Awalnya Alice mengira itu pacar Bella, tapi ternyata itu sahabat sekaligus kakak Bella. Aku lega mendengarnya, hanya saja aku terkejut ketika Alice bilang bahwa senyum pria itu manis sekali. Oh, Alice ! Dan malam ini aku memutuskan untuk menelepon Bella, ingin mendengar suaranya, juga tawanya. Dering ke 2 Bella sudah mengangkat teleponnya,
"Halo Bella" .
"Hei Edward" jawabnya . Suaranya, aku rindu suaranya.
"Apa kabarmu ?" tanyaku. "Kau masih menungguku bukan?" lanjutku. Bella tertawa.
"Aku bingung Edward" jawabnya. Bingung ? Bingung kenapa ?
"Bingung ?" tanyaku. Bella tidak tertawa lagi. Dia bingung kenapa ? tanyaku dalam hati. Aku penasaran sekarang.
"Ya" jawabnya singkat. Bella, aku gila !
"Tapi kenapa Bells?" tanyaku lagi.
"Aku bingung Ed, mengapa kau menanyakan itu padaku ?" tanyanya. Kini aku yang tertawa, tapi dia hanya diam. Oh Bella !
"Nanti kuberitahu Bells" jawabku. Iya, nanti ketika aku pulang. Kuberitahu tentang semua rasa ini padamu Bells, batinku.
"Yeah Edward, kau semakin membuatku bingung" katanya lagi.
"Sudahkah Bells, tak usah kau pikirkan" kataku sambil menahan tawa. "Kau mau menjawab pertanyaanku tadi tidak ?" tanyaku padanya, nada suaraku sedikit memaksa.
"Tidak" jawab Bella spontan . "Tidak, sebelum kau memberi tahuku mengapa kau menanyakan itu" lanjutnya lagi. Kali ini nada suaranya sedikit kesal. Aku hampir tertawa mendengarnya, hanya saja aku menahannya. Bisa bisa dia makin kesal padaku.
"Yasudah Ed, kau tidak mau memberitahuku, aku mau tidur dulu" katanya kesal.
"Oke Bells, selamat tidur, kutunggu jawabanmu" kataku lagi sambil tersenyum.
"Yeah" jawab Bella singkat. Lalu menutup teleponnya. Maaf Bells, sekarang bukan saat yang tepat. Ku putuskan untuk mengirim pesan sms padanya. Semoga dia tersenyum mebacanya. "BELLA, AKU AKAN DATANG KE MIMPIMU".

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Someday In London Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

Like the Post? Do share with your Friends.