Love and Secret

When it turns out anything about blogging, I'm sixteen years old :')

Sabtu, 12 Juli 2014

Resensi Novel The Fault In Our Stars

Diposting oleh Desy Amelia Rambe di 00.12
Reaksi: 


Judul Buku          : The Fault In Ours Stars : Salahkan Bintang-Bintang
Pengarang           : John Green
Penerjemah         : Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit              : Qanita, PT Mizan Pustaka
Halaman             : 422 halaman



                The Fault In Our Stars adalah novel best seller dari seorang novelis asal Indianapolis, John Green. Novel ini merupakan salah satu #1 New York Times Bestseller dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Novel ini telah diterjemahkan ke Bahadsa Indonesia dengan judul kecilnya Salahkan Bintang-Bintang.
                Hazel Grace Lancaster, seorang anak gadis berumur 16 tahun yang menderita penyakit kanker paru-paru stadium empat yang harus membawa tangki oksigen kemanapun dia pergi untuk membantunya bernafas. Penyakit yang dideritanya membuat dia lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca dan menonton acara televise kesukaannya. Hal ini membuat kedua orang tuanya khawatir sehingga mereka merekomendasikan Hazel untuk mengikuti sebuah kelompok yang disebut Kelompok Pendukung, yaitu kelompok para pengidap  kanker yang bergabung untuk saling menyemangati satu sama lain. Dan disanalah awal pertemuannya dengan seorang pria tampan, Augustus Waters.


                Dengan bermodalkan novel kesayangan Hazel, Kemalangan Luar Biasa, mereka semakin dekat. Hingga suatu hari Augustus berniat membantu Hazel untuk memenuhi keinginnyannya yaitu mengetahui kelanjutan cerita dari novel kesayangannya itu, karena novel tersebut berakhir tepat di tengah kalimat dengan meninggalkan banyak tanda Tanya untuk para tokohnya. Amsterdam, negara yang akan dikunjungi mereka untuk bertemu dengan sang penulis Kemalangan Luar Biasa, Peter Van Houten. Namun kejadian yang tak diduga sebelumnya terjadi saat mereka mengunjungi lelaki tua itu. Sesuatu yang membuat Hazel kecewa, namun tidak hanya sampai disitu, di Amsterdam lah sebuah kenyataan yang menyakitkan harus diterima oleh Hazel.

                Sepulang mereka dari Amsterdam, keadaan semakin memburuk. Dan dari sinilah menurut saya mulai klimaks dari kisah ini sendiri. Dari kenyataan itu kita akan semakin dibawah jauh ke dalam perasaan Hazel yang memilukan. Tidak sampai disitu, akhir dari novel ini akan membuat anda semakin  meneteskan air mata. Dan saya ingatkan, sebaiknya anda menyiapkan tissue di akhir-akhir bab. 

                Novel ini akan mempresentasikan kepada kita tentang kehidupan seorang gadis yang mengidap kanker dan hubungannya dengan sang pacar serta teman mereka, Isaac, yang juga pengidap kanker. Kita akan ikut masuk ke dalam kehidupannya dengan segala macam persoalan yang ada. Kita akan mendapat pesan moral dari novel ini, bahwa kita harus mensyukuri keadaan kita sekarang ini jika dibandingkan dengan mereka. Hazel membuktikan itu dengan terus menjalani kehidupan demi orang tuanya dan juga demi Augustus. Hazel dan Augsutus juga memilih menjalani hidup seperti orang lainnya, tanpa ada kesedihan yang mendalam yang harus mereka ratapi.

Menurut saya jalan cerita dan kisah dari novel ini tidak diragukan lagi. Hanya saja versi terjemahan ini menurut saya kurang dalam segi terjemahannya. Banyak kata-kata yang masih susah untuk dicerna. Kemudian juga dengan covernya yang menurut saya lebih ke cover buku anak-anak. Saya pikir akan lebih bagus jika covernya dipertahankan cover yang asli atau dibuat lebih mengarah ke remaja. 

Novel ini sangat bagus dan akan memberikan banyak pelajaran yang bermanfaat tentang kehidupan yang kita miliki. Dengan segala kesusahan dan masalah yang dihadapi oleh tokoh utama dalam novel ini, kita dapat mengambil hikmah yang dapat merubah cara pandang kita akan kehidupan. John Green sangat mengerti akan perasaan para remaja yang sedang dimabuk cinta, tanpa mengurangi sedikitpun unsur nilai dari kedidupan didalamnya.
               

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Someday In London Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

Like the Post? Do share with your Friends.