Love and Secret

When it turns out anything about blogging, I'm sixteen years old :')

Jumat, 11 Juli 2014

The Fault In Our Stars, Bukan Tentang Kanker!

Diposting oleh Desy Amelia Rambe di 21.11
Reaksi: 


                Uda pada nonton The Fault In Our Stars ga? Kalo uda mari kesini bergabung dengan saya untuk membahas tentang film dan juga novelnya) The Fault In Our Stars ini uda jadi salah satu yang bikin hidup saya hancur  (bukan dalam hal beneran hancur) hanya saja baca dan nonton filmnya sama2 bikin ngeluari air mata dan frustasi. Ini adalah rekor terlama saya menangis menyaksikan film dan membaca novel. Sampe2 pas keluar bioskop itu malu dan nutupin mata. Lupa bawa tissue lagi, alhasil jilbab jadi basah. Behhh beneran ini uda kayak “The Knife in Our Heart”. But btw diluar dari hal itu tadi, yang bikin saya senang adalah love storynya dan betama mengesankannya seorang Augustus Waters. 

The Fault In Our Stars adalah novel best seller dari seorang novelis asal Indianapolis, John Green. Novel ini merupakan salah satu #1 New York Times Bestseller dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Novel ini telah diterjemahkan ke Bahadsa Indonesia dengan judul kecilnya Salahkan Bintang-Bintang. 

Cover film The best of the best bagi sayaa


                Hazel Grace Lancaster, seorang anak gadis berumur 16 tahun yang menderita penyakit kanker paru-paru stadium empat yang harus membawa tangki oksigen kemanapun dia pergi untuk membantunya bernafas. Penyakit yang dideritanya membuat dia lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca dan menonton acara televise kesukaannya. Hal ini membuat kedua orang tuanya khawatir sehingga mereka merekomendasikan Hazel untuk mengikuti sebuah kelompok yang disebut Kelompok Pendukung, yaitu kelompok para pengidap  kanker yang bergabung untuk saling menyemangati satu sama lain. Dan disanalah awal pertemuannya dengan seorang pria tampan, Augustus Waters.


                Dengan bermodalkan novel kesayangan Hazel, Kemalangan Luar Biasa, mereka semakin dekat. Hingga suatu hari Augustus berniat membantu Hazel untuk memenuhi keinginnyannya yaitu mengetahui kelanjutan cerita dari novel kesayangannya itu, karena novel tersebut berakhir tepat di tengah kalimat dengan meninggalkan banyak tanda Tanya untuk para tokohnya. Amsterdam, negara yang akan dikunjungi mereka untuk bertemu dengan sang penulis Kemalangan Luar Biasa, Peter Van Houten. Namun kejadian yang tak diduga sebelumnya terjadi saat mereka mengunjungi lelaki tua itu. Sesuatu yang membuat Hazel kecewa, namun tidak hanya sampai disitu, di Amsterdam lah sebuah kenyataan yang menyakitkan harus diterima oleh Hazel.

Hazel and Gus in Amsterdam

                Sepulang mereka dari Amsterdam, keadaan semakin memburuk. Dan dari sinilah menurut saya mulai klimaks dari kisah ini sendiri. Dari kenyataan itu kita akan semakin dibawah jauh ke dalam perasaan Hazel yang memilukan. Tidak sampai disitu, akhir dari novel ini akan membuat anda semakin  meneteskan air mata. Dan saya ingatkan, sebaiknya anda menyiapkan tissue di akhir-akhir bab. 

                Novel ini akan mempresentasikan kepada kita tentang kehidupan seorang gadis yang mengidap kanker dan hubungannya dengan sang pacar serta teman mereka, Isaac, yang juga pengidap kanker. Kita akan ikut masuk ke dalam kehidupannya dengan segala macam persoalan yang ada. Kita akan mendapat pesan moral dari novel ini, bahwa kita harus mensyukuri keadaan kita sekarang ini jika dibandingkan dengan mereka. Hazel membuktikan itu dengan terus menjalani kehidupan demi orang tuanya dan juga demi Augustus. Hazel dan Augustus juga memilih menjalani hidup seperti orang lainnya, tanpa ada kesedihan yang mendalam yang harus mereka ratapi. 

Diatas adalah bagian dari resensi saya dari novel The Fault In Our Stars. Dan mengingat bahwa filmnya sendiri sudah rilis di bioskop (dan saya sudah menontonnya dengan berlinang air mata) maka saya putuskan untuk membuat beberapa perbedaan antara novel dan film. Memang, pasti banyak perbedaannya dan itu semua untuk tujuan film yang hanya membutuhkan waktu maksimal 2 jam lebih. Jadi berikut analisis saya tentang perbedaan novel dan filmnya.


SPOILER ALLERT!!!

1.       Pertemuan Augustus dan Hazel bukanlah secara bertabrakan seperti di film tetapi saat mereka duduk di Kelompok Pendukung. Dan menurut saya, adegan bertabrakan itu berkesan banget dan so sweet ;))

2.       Menurut novel, mata Hazel berwarna hijau dan Augustus biru, namun di film mereka tetap mempertahankan mata para pemainnya yaitu Shailene dan Ansel. Dan juga rambut Isaac seharusnya pirang, namun di film Nat Wolff yang berperan sebagai Isaac berambut hitam.

3.       Ketika akan berangkat ke Amsterdam, Gus datang dengan mobil super mewah untuk menjeput Hazel dan Ibunya, itu adalah bagian di film. Namun untuk versi novelnya, Hazel dan Ibunya yang menjemput Gus ke rumahnya dan mendapati Gus sedang bertengkar kecil dengan ibunya. Ini salah satu yang menjadi clue tentang keadaan Augustus yang sebenarnya.

4.       Adegan di pesawat, aaahh saya lebih menyukai versi film, lebih lucu dan menggemaskan. Augustus yang belum pernah naik pesawat sebelumnya bertingkah aneh dan konyol yang membuat para penonton masih gemes. Di film ada ditambahin lelucon Gus yang bilang “HA HA” (kalian taulah yang mana)

5.       Rumah Peter Van Houten. Kalau di novel dikatakan ruang duduknya steril maka di film adalah kebalikannya, buku berserakan dimana-mana.  

6.       Cara dan momen Augustus menyatakan cintah lebih keren di film. Kalau di novel, Gus menyatakan cinta saat di pesawat (dan ini menurut saya ga cool ah, kok di pesawat? Mana ibunya Hazel disebelah Hazel jugaaa yaaah) naah kalo di filmnya waktu makan malam romantis. Nah ini baru yang bener wkwk

7.       Momen dimana Augustus ngasih tau Hazel tentang penyakitnya. Kalau di novel kurang menurut saya, Gus ngasih taunya pas di kamar hotel. Nah kalo di film itu di bangku pinggir kanal Amsterdam. Duuuhh memorial banget adegan ini. Liat muka Gusnya pengen meluk terus bilang “It’s gonna be okay Gus, you’re gonna be okay” *dreaming

8.       Naah ini adegan love scenenya, kalau di novel katanya sih disensor, ga ada penjelasannya. Yang ada hanya setelahnya. Kalau di film, you know laahh. Romantisnya bikin meleleh, pake bikin percakapan “I Love You”an malaah. Aaahhhh melting..

9       Momen lempar telur menurut saya sama2 mengasyikkan. Di film dan novel yang membuat perbedaannya hanya penambahan linenya Augustus yang kayak gini “We have five legs, four eyes and two a half pair of working lungs” aahh itu bener2 bikin makin cinta sama Gus.

1    Di film ga ada dikasih liat foto Gus sama Isaac yang diambil Hazel. Foto terakhir Gus di hp Hazel. Pengen liat fotonyaaa aaaa :’(

11.   Masuk ke adegan pemakaman (saya yakin siapapun di bioskop pasti nangis). Dimana versi novel uda tentu lebih menyedihkan. Dengan deskripsika Hazel akan keadaan Augustus yang didandan rapi di dalam peti. Ini yang bikin paling nyesek selama baca novelnya. Kira-kira begini “Perjalanan itu terasa panjang, tapi aku terus meminta paru-paruku untuk diam, mengatakn bahwa mereka kuat dan bisa melakukan hal ini. Aku bisa melihat Gus ketika aku semakin dekat : Rambutnya dibelah rapi di sisi kiri kepalanya dengan  cara yang pasti akan dianggapnya teramat sangat mengerikan. Dan, wajahnya dirias. Tapi, dia masih Gus. Gusku yang kerempeng dan rupawan. (saya ingin waktu baca bagian ini jam setengah 2 malam dan terisak-isak di bantal). Ini ada di hal 361, dan memorial bangetlah pokoknya. Oia ditambah saat Hazel mencoba untuk menghubungi Augustus untuk menceritakan kesedihannya tentang kepergian Augustus. Kalo yang inilaaah, habis air mata ini.

12.   KAlau di film Hazel meletakkan rokok di atas peti Gus secara terang2an, dan berkata “I was his girlfriend” dan ini bikin makin mewek pas nonton filmnya. Kalo di novel secara diam2 hanya saja ada quotes kayak gini “ Kau bisa menyalakannya. Aku tidak akan keberatan.” I NEED TISSUE!!

13.   Terakhir, proses Hazel menemukan surat Gus untuk Van Houten. Di film lebih singkat, kalau di novel benar2 penuh perjuangan, dan saya pribadi lebih suka yang di novel.

14.   Kata terakhir di film adalah “Okay Hazel Grace?” “Okay” kalau di novel “I do Augustus. I do”. Dua2nya sih mengesankan, tapi I do Augustus lebih menyedihkan.

Sebenarnya sih saya sendiri kurang yaaah gitu ya maksudnya kenapa Hazel sampai sebegitunya ngotot pengen tau apa kelanjutan kisah Kemalangan Luar Biasa itu. I mean, it’s just a story, right? But yeah I do understand, terkadang saat kita benar2 memasukkan sesuatu yang fiksi ke dalam kehidupan akan kebawa seakan akan itu nyata dan mungkin itu yang dialami Hazel Grace. Dan beneran, saya mendambakan seorang Augustus. Uda tampan, kocak, periang, kiasan-kiasannya itulohhhh. Oia the way he called her always with “Hazel Grace” so sweet. Tapi yaaa itulah kayaknya John Green punya pikiran gitu “Here I give you something perfect. You happy? And then let me kill him.” Pfftt tapi yaaa itulah poinnya di novel ini, kalo ceritanya datar2 aja terus happy endingkan ntar ga seru. Apalagi menurut saya klimaknya itu pas Gus bilang kalo dia kenak kanker lagi. “Aku menyala seperti pohon natal, Hazel Grace.” Ini adalah kata2 yang paling menyedihkan. Augustus seorang remaja yang kocak riang dan penuh kiasan menarik akan selalu diingat oleh fans novel ini. Seorang Augustus yang ingin diingat semua orang dan narsis, yeah narsis! Dia ga segan2 bilang dirinya sendiri tampan. But Augustus I do. I do Augustus. I do remember you. You have a place in my heart. Don’t you worried about your oblivion.

Daan selain itu kita harus juga member apresiasi buat Isaac, dia uda kehilanga matanya, dicampakkan Monica, ditinggal Gus dan cepat atau lambat bakam ditinggal Hazel juga. Oiaa menurut kabar saya pernah baca, John Green bilang kalo Hazel meninggal satu tahun setelah kepergian Augustus. Itu juga sebelumnya yang jadi pertanyaan saya, setelah Augustus meninggal, apa yang terjadi pada Hazel? Sampai kapan dia bertahan hidup dari kankernya? Atau bisa selamat, dan hari ini saya baru mendapatkan jawabannya. 

Gus, Isaac, and Hazel. I love this pairing :)

Oia sebelum lupa, menurut aku terjemahan novelnya kurang. Ga tau kenapa yaa. Awalnya liat2 di twitter lagi booming banget ini novel. Pengen dong bacanya, nah beli deh kan. Uda niat baca nih, eh gitu liat covernya sama isinya yang ada tulisan2 hatinya jadi ngurungin niat. Uda baca hamper 2 bab dan kurang srek. Ditunda-tunda smpe keluar filmnya belum juga tebaca (kali ini karna musim ujian jadi pati ga bisa). Nah bisa bacanya setelah nonton filmnya (betapa bodohnya sayaaa). Tapi itu ga terlalu berpengaruh sama sekali. Cuma memang yang paling mengecewakannya kalo tau gitu saya mending belinya setelah filmnya keluar aja, biar covernya dapat yang bagus gambar mereka aaaa :’( ini benar2 penyesalan yang sangat dalam, karena novel terjmahan sebelumnya covernya mirip buku cerita anak-anak, padahal kalo cover aslinya cantik banget, sama sama biru sih. Awalnya mikir pas beli covernya kayak cover di Amrik ga tau bukan. Tpi gpp deh, yang pentingkan isi ceritanyaa ya yaayayaya J) oia I just considered to read it in English version. Katanya sih lebih ngena plus kata2nya lebih indah diucapkan. Bayangkan dong yang ini “Some infinities are bigger than other infinities” nah kalo di terjemahkan jadi “Beberapa ketakterhinggaan lebih besar dari ketakterhinggaan lainnya” ribetkan bacanyaaa. Tapi yaa terjemahan novel ini tetap bagus kok, kalo ga bagus kan ga mungkin bisa kita mengerti ceritanya.


Andaikan saya dapat salah cover ini :(


Sebelum pamit, saya mau bagi quotes2 yang menarik. Lets see :
a. Versi novel (terjemahannya)
 “Depresi adalah efek samping dari sekarat.” – Hazel Grace

“Hanya satu hal di dunia ini yang lebih menyebalkan daripada mati gara-gara kanker di usia enam belas, yaitu punya anak yang mati gara-gara kanker.” – Hazel Grace

“Peter Van Houten adalah satu-satunya orang yang kukenal yang seakan (a) memahami bagaimana rasanya sekarat, dan (b) belum mati.” – Hazel Grace

“karena kau cantik, dan aku suak memandangi makhluk cantik.” – Augustus Waters

“Rokok tidak akan membunuhnya, kecuali jika kau menyalakannya.” – Augustus Waters

“Seakan ‘Selamat! Kau seorang perempuan. Sekarang matilah!’” – Hazel Grace

“Dunia bukanlah pabirk pewujud keinginan” – Augustus Waters

“Augustus Waters adalah bajingan  yang senang memuji dirinya sendiri. Tetapi kami memaafkannya.” – Isaac

“Satu-satunya orang yang ingin kuajak bicara mengenai kematian Augustus Waters adalah Augustus Waters.” – Hazel Grace

Banyak sekali sebenarnya, beberapa yang di atas adalah perwakilannya. Nah kalo yang versi bahasa Inggrisnya :

“Some infinities are bigger than other infinities.” – Hazel Grace
“I never took another picture of him.” – Hazel Grace
“Okay?” – Augustus “Okay.” – Hazel
“Augustus Waters is a cocky son of a bitch, but we forgive him.” – Isaac
“it’s be a privilege to have my heart broken by you” – Augustus Waters
“A metaphor.” – Augustus Waters
“Maybe ‘Okay’ will be our ‘Always’” – Augustus Waters.
“I called it a nine because I was having my ten. And here it was, the great and terrible ten.” – Hazel Grace
“But Gus, my love. I cannot tell you how thankfull I am for our little infinity.” – Hazel Grace
“That’s the thing about pain. It demans to be felt.” – Augustus Waters


Last, favorite scene from movies :
1.       Gus ngeliatin Hazel terus sambil senyum ga kedip2. Ini itu awwwww. Tapi sebenarnya yang di novel lebih aww. Soalnya mereka kayak lomba gitu, trus Gus ngalihkan pandang dan tersenyum. Artinya Hazel menang.
2.       Adegan ‘A Metaphor’ Gussss, you don’t how I love you so much.
3.       Hazel nunggu2 telepon dari Augustus. Hihi I know what you feeling Hazel. Oia ini ga ada di novel deh kayaknya yg Hazel nungguin telp Gus. Malah Gus yang pengen cepat2 berinteraksi sama Hazel lagi.
4.       Adegan Isaac ngehancuri semua piala Augustus. Lucu deh sambil mereka cakap2 backgroundnya si Isaac yang konyol
5.       Adegan ayah Hazel dan Gus yang nunggu Hazel buat piknik
6.       Adegan Gus jemput Hazel dan Ibunya naik mobil mewah. Ini waw kali memang buat seorang Augusutus wkwk
7.       Of course, adegan pesawat itu yang paling kocak.
8.       Makan malam ;)
9.       Anne Frank House, liat perjuangan Hazel buat naikin tangga itu mengharukan

di Anne Frank house, first kiss mereka :))


10.   Gus nunduk ngasih hormat pas semua orang tepuk tangan after kissing scene
11.   Adegan lempar telur dan kekocakan Augustus.
12.   Setelahnya adegan menyedihkan, yang begitu pilu untuk menyasikannya hingga habis film.

Well, itulah pengalaman, resensi, perbedaan versi novel dan film yang bisa saya buat. Semuanya murni dari pikiran sendiri. Soalnya ga selesai2 galaunya mirikin TFIOS ini, jadi yauda mending diutaran di blog. So I hope you enjoy this story as much as I am. See yaaa.

I do Augustus.
I do.

2 komentar:

donna on 10 Februari 2015 01.27 mengatakan...

so, what about 'kemalangan luar biasa' peter van houten, is that real book?

Desy Amelia Rambe on 24 Desember 2015 07.51 mengatakan...

i dont think so, it's just a fiction john greean created to this story

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Someday In London Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

Like the Post? Do share with your Friends.